Dunia Wakaf

Eksistensi wakaf tunai di Indonesia  

Sejak  Indonesia merdeka hingga  menginjak usia ke 67 tahun, kemiskinan masih menjadi problematika mendasar yang masih harus dihadapi bangsa ini. Kemiskinan merupakan satu persoalan rumit yang dihadapi oleh negara. Sifatnya massif dan struktural serta meluas terjadi pada setiap lapisan masyarakat. Menurut Badan Pusat Statistik, data terakhir yang diambil pada maret 2012 kemiskinan mencapai 29,13 juta orang, 11,96 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia. Pemerintah telah membuat program-program untuk mengentaskan kemiskinan. Berbagai langkah yang ditempuh seolah bersifat tambal sulam. Pemerintah Indonesia juga masih belum bisa melepaskan diri dari utang luar negeri berbasis bunga, sehingga utang menjadi salah satu sumber utama pembiayaan APBN. Dana APBN ratusan triliun yang seharusnya digunakan untuk pemberdayaan rakyat miskin. Di sisi lain pula utang luar negeri yang belum terserap jumlahnya juga tidak sedikit. Fenomena ini menjadi permasalahan ekonomi di Indonesia, adanya ketergantungan dan tekanan beban utang luar negeri. Selain problem hutang Indonesia yang amat besar, ancaman terhadap kesinambungan fiskal dan pembiayaan pembangunan juga menjadi problem besar. Demikian pula buruknya infrastruktur, rendahnya investasi dan pertumbuhan ekonomi, terpuruknya sektor rill, menurunnya daya saing, serta akan masih meningkatnya angka pengangguran akibat kenaikan harga BBM. APBN kita masih berada pada titik yang kritis disebabkan karena faktor eksternal seperti naiknya harga minyak. Hal ini bisa membuat beban APBN membengkak dan memperbesar defisit APBN. sebagai akibat ikut membengkaknya subsidi BBM dan pengeluaran pemerintah yang terkait dengan luar negeri. Belum lagi ancaman depresiasi nilai rupiah yang selalu membayang-bayangi. Keterpurukan ekonomi Indonesia juga ditandai oleh masih belum bergairahnya sektor riil. Ekonomi Indonesia benar-benar terpuruk karena berada di bawah sistem ekonomi kapitalisme. Indonesia hanya unggul atas negara-negara Afrika seperti Malawi, Uganda, Kenya, Zambia, Mozambik, Zimbabwe, Mali, Angola dan Chad. Peringkat daya saing pertumbuhan (growth competitiveness index) Indonesia, nyaris sama dengan Ethiopia yang pernah hancur-lebur oleh perang serta wabah kelaparan. Kondisi-kondisi yang ada menjadi suatu keniscayaan untuk mengembangkan eksistensi ekonomi syariah. Selama ini, sistem ekonomi dan keuangan syariah masih menunjukkan perkembangan yang lebih lamban dibandingkan ekonomi konvensional. Nuansa kebangkitan nilai-nilai sosial ekonomi syariah telah terlihat diberbagai belahan dunia. Dimulai dari pendirian lembaga-lembaga keuangan sampai organisasi-organisasi yang bersifat global, seperti OIC (Organization of Islamic Conference), IDB (Islamic Development Bank), berkembangnya hubungan masyarakat Muslim Asia Tengah dengan OIC, persaudaraan negara-negara Islam bekas Uni Soviet, pendirian perwakilan-perwakilan dagang Islam, pembentukan ISF (Islamic Solodarity Fund) oleh OIC dan ajakan untuk mendirikan ICM (Islamic Common Market), IMS (Islamic Monetary System), IIID (Islamic Insurance and Islamic Dinar) dan sebagainya. Salah satu instrumen ekonomi syariah yang dikembangkan adalah wakaf. Wakaf memiliki fungsi sosial dan fungsi manfaat.  Dalam fungsi sosialnya, wakaf merupakan aset yang amat bernilai dalam pembangunan sosial yang tidak memperhitungkan jangka waktu dan keuntungan material bagi orang yang mewakafkan. Sementara  dari sisi manfaat, dari dana wakaf banyak fakir-miskin yang disantuni, lembaga-lembaga sosial tumbuh berkembang, rumah-rumah ibadah didirikan, sekolah-sekolah dan rumah sakit serta panti asuhan dibangun. Praktek perwakafan telah banyak dilakukan di berbagai belahan dunia, baik di negara muslim maupun di negara non muslim. Di Mesir, Tunisia, Turki, Yordania, Bangladesh, bahkan di Singapura, sebuah negara dengan penduduk muslim minoritas (lebih kurang 453.000 orang saja) berhasil membangun harta wakaf secara produktif. Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) melalui WARESS Investment Pte Ltd telah berhasil mengurus dan membangun harta wakaf secara profesional. Keberhasilan itu antara lain membangun apartement 12 tingkat bernilai sekitar S$62.62 juta. WARESS juga berhasil membangun proyek perumahan mewah yang diberi nama The Chancery Residence, dan banyak lagi catatan aktivitas produktif lainnya. Indonesia  memiliki potensi wakaf  yang cukup besar, baik yang dikelola secara konsumtif maupun secara tradisional, terutama dalam hal  wakaf tanah. Namun pengelolaan yang ada lebih banyak yang bersifat konsumtif, daripada pengelolaan yang bersifat produktif.  Sehingga peranannya sebagai katalisator bagi problem sosial dan ekonomi umat belum maksimal. Instrumen wakaf yang ada selama ini lebih ditujukan kepada golongan yang empunya dan menengah ke atas. Data yang ada di Departemen Agama menunjukkan selama ini perkembangan wakaf di Indonesia cukup besar. Jumlah aset wakaf tanah di Indonesia sebanyak 366.595 lokasi dengan luas 2.686.536.565,68 M2. Wakaf-wakaf ini kebanyakan dipergunakan untuk pembangunan masjid, musholla, sekolah, panti asuhan, dan makam. Dari data tersebut terlihat bahwa pengembangan wakaf selama ini masih terbatas pada wakaf yang sifatnya tidak bergerak dan tahan lama. Meskipun dana wakaf yang terkumpul cukup besar, tetapi masih kurang dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Sehingga keberadaan masih belum dirasakan peranannya dalam pembangunan umat. Agar aset-aset wakaf yang telah terkumpul lebih produktif, maka salah satu langkahnya dikembangkanlah wakaf tunai. Wakaf ini pada awalnya dipopulerkan oleh A.Manan di Bangladesh. Wakaf tunai pada hakikatnya bukan merupakan instrumen baru. Praktek wakaf tunai telah dikenal lama dalam sejarah Islam. Wakaf tunai berkembang dengan baik pada zaman Bani Mamluk dan Turki Usmani. Dikalangan umat klasik, hukum wakaf tunai masih dalam perdebatan, karena sifatnya yang habis terpakai, namun khilafiyah itu bisa terangkat dengan lahirnya hukum yang melegitimasinya. Di Indonesia, kebolehan wakaf tunai sudah diatur dalam UU No 41 tahun 2004  berdasarkan fatwa MUI Indonesia tanggal 11 Mei 2002. Sehingga secara legitimasi, wakaf tunai tidak diragukan lagi eksistensinya. Wakaf uang sudah menjadi ketetapan hukum nasional dan menjadi isu penting dalam perwakafan Indonesia. Untuk memaksimalkan fungsi perwakafan dan menggerakkan ekonomi umat.  Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan gerakan nasional wakaf uang di Istana Negara pada tanggal 8 Januari 2010. Wakaf telah menfasilitasi keinginan orang untuk berwakaf tanpa menunggu menjadi orang kaya atau mempunyai tanah yang luas. Wakaf uang kemudian dikelola dalam produk keuangan syariah dan sebagian sudah diinvestasikan langsung kepada sektor riil produktif. Perkembangan wakaf uang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2007 Badan Wakaf Indonesia berhasil mengumpulkan sepuluh juta rupiah hingga tahun 2011 menjadi Rp.795.863.768. Perkembangan yang sangat signifikan, namun masih terlalu kecil berbanding potensi wakaf yang ada. Wakaf tunai ini memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bershodaqoh jariyah dan mendapat pahala yang tidak terputus tanpa harus menunggu menjadi tuan tanah atau saudagar kaya. Orang bisa berwakaf hanya dengan membeli selembar sertifikat wakaf tunai yang diterbitkan oleh institusi pengelola wakaf (nadzir). Dana wakaf yang terkumpul ini selanjutnya dapat digulirkan dan diinvestasikan oleh nadzir ke dalam berbagai sektor usaha yang halal dan produktif, sehingga keuntungannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan umat dan bangsa secara keseluruhan. Fakta pun telah menunjukkan bahwa banyak lembaga yang bisa bertahan dengan memanfaatkan dana wakaf, dan bahkan memberikan kontribusi yang signifikan. Sebagai contoh adalah Universitas Al Azhar Mesir, Pondok Pesantren Modern Gontor, Islamic Relief. Islamic Relief adalah sebuah organisasi pengelola dana wakaf tunai yang berpusat di Inggris. Islamic Relief mampu mengumpulkan wakaf tunai setiap tahun tidak kurang dari 30 juta poundsterling, atau hampir Rp 600 miliar, dengan menerbitkan sertifikat wakaf tunai senilai 890 poundsterling per lembar. Dana wakaf tunai tersebut kemudian dikelola secara amanah dan profesional, dan disalurkan kepada lebih dari 5 juta orang yang berada di 25 negara. Bahkan di Bosnia, wakaf tunai yang disalurkan Islamic Relief mampu menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 7.000 orang melalui program Income Generation Waqf. Wakaf tunai ini juga dapat menjadi salah satu instrumen dalam program pengentasan kemiskinan. Karena wakaf ini bertujuan menjadi produktif dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan di bawah garis kemiskinan. Seseorang yang memiliki uang atau dana yang terbatas pun dapat melaksanakan wakaf tunai ini dengan kemampuannya. Wakaf tunai itu pada dasarnya bertujuan menghimpun dana abadi yang bersumber dari umat, yang kemudian dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kepentingan dakwah dan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s