SINERGITAS KEUANGAN SYARIAH DALAM KETAHANAN PANGAN ; SUATU TINJAUAN HISTORIS

 

Sistem makanan suatu individu atau masyarakat dipengaruhi oleh tingkat kerentanan dan kemampuannya dalam menghadapi perubahan. Penyebab kerentanan ada tiga yaitu : Pertama, shock adalah perubahan mendadak dan tidak terduga karena alam atau konflik. Kedua, trend adalah perubahan yang bisa diamati seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, perkembangan politik. Ketiga, seasonality adalah perubahan musiman dari harga, produksi dan iklim.[1] Suatu individu atau masyarakat akan selalu berusaha bagaimana pun caranya untuk tetap dapat memperoleh makanan demi kelangsungan hidupnya.

Masyarakat yang tidak dapat mengembangkan penyesuaian diri terhadap kerentanan-kerentanan yang ada inilah akan mengakibatkan terjadi ketahanan pangan yang tidak baik. Bentuk ketidaktahanan pangan  ada dua macam yaitu bersifat transitori dan bersifat kronik. Ketidaktahanan transitori adalah masyarakat yang kekurangan makanan akibat bencana alam atau gagal panen, sementara ketidaktahanan kronik adalah kekurangan makanan yang terus menerus karena daya beli dan sumber daya insan yang rendah.[2] Pada kedua bentuk ini Islam melihatnya dengan pendekatan yang berbeda.

 

Ketidaktahanan transitori pernah terjadi pada masa pemerintahan Umar bin khattab yang terkenal dengan krisis Ramadah.[3] Krisis Ramadah adalah krisis ekonomi yang diakibatkan tidak turunnya hujan yang cukup lama menyebabkan kekeringan, mewabahnya penyakit dan kelaparan terjadi dimana-mana. Untuk mengatasi kelaparan Umar melaksanakan beberapa kebijakan antara lain : [4]

  1. Mengambil makanan dan harta dari Baitul Mal sampai habis.[5]
  2. Mengirim surat pada gubernur-gubernur yang ada di daerah untuk mengirimkan bantuan.
  3. Menggali teluk yang menghubungkan Madinah dan Mesir agar bantuan dari Mesir sampai dengan mudah dan cepat.
  4. Membangun gudang penyimpanan makanan yang berisi tepung, kurma, dan makanan-makanan lain yang berasal dari bantuan-bantuan  Mesir dan wilayah lainnya. [6]
  5. Memberikan makanan pada orang-orang yang berhak menerimanya secara continu dengan menulis cek. Umar menentukan orang-orangnya dengan harga yang murah pada saat harga di pasaran lebih mahal. Ia menambah dan mengurangi menurut jumlah persediaan makanan yang terdapat pada  gudang penyimpanan makanan. [7]

Sementara pada Ketidaktahanan kronik yang diakibatkan tidak dapatnya masyarakat merespon perubahan-perubahan yang ada dapat bersifat jangka pendek yang disebut coping mechanism dan bersifat jangka panjang yang disebut adaptive mechanism. Pada jangka pendek tujuan mereka adalah bagaimana mendapatkan makanan, tetapi dalam jangka panjang tujuannya adalah memperkuat sumber-sumber kehidupan untuk menjamin keberlanjutan dalam memperoleh makanan.[8] Hal ini telah dipraktekkan oleh Umar bin Khattab ketika memberi bantuan pada anaknya Ashim. Selama satu bulan beliau memberi nafkah dari baitul mal, tetapi setelah satu bulan beliau menghentikan bantuannya dan kemudian menyuruh anaknya untuk berusaha sendiri, dengan memetik dan menjual buah-buahan yang ada di kebun Umar.[9]

Kemiskinan adalah bentuk dari ketidaktahanan kronik. Kemiskinan timbul karena lemahnya kemampuan untuk mengekspolarasi sumber-sumber materi yang ada. Bagi mereka adalah bagaimana memperkuat sumber-sumber kehidupan untuk menjamin keberlanjutan dalam mendapatkan makanan, tidak hanya mendapatkan makanan dalam jangka pendek. Menurut Abdul Manan dalam mengatasi kemiskinan mutlak yang harus dilakukan adalah usaha untuk meningkatkan pendapatan mereka, tidak hanya  sebatas perbaikan dalam distribusi pendapatan.[10]

 

Pada pemerintahan Umar, pemberian bantuan dilakukan melalui Baitul Mal dan gudang penyimpanan makanan. Gudang-gudang ini digunakan untuk menyimpan bantuan-bantuan makanan yang datang dari berbagai daerah dan dari Baitul Mal dikeluarkan harta untuk orang-orang yang berhak menerimanya. Harta dalam baitul mal dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Zakat, Ghanimah dan Fai. Menurut Dr.Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, harta fai ini digunakan ketika terjadi musibah atau bencana dan pemberian tahunan bagi orang yang bermanfaat bagi umat serta orang yang memerlukannya. [11]Keperluan individu yang menjadi tolak ukur dalam perekonomian Islam. Harta fai  adalah milik semua orang tanpa terkecuali, tanpa memandang suku dan keyakinan.[12] Sumber-sumber harta fai didapatkan dari :

  1. Kharaj, yaitu sesuatu yang ditetapkan kepada non muslim yang mengelola daerah taklukan
  2. Jizyah, yaitu sesuatu yang ditetapkan pada setiap kafir dzimmi dengan darah dan harta mereka terlindungi.
  3. Usyur, yaitu sesuatu yang diambil dari pedagang non muslim
  4. Seperlima ghanimah yang menjadi hak Allah dan Rasul

Menurut Abdul Mannan ada tiga bentuk baitul mal yang pernah dipraktekkan dalam Islam, baitul mal al-khos, baitul mal, dan baitul al-Islam. Dari Baitul al-Islam inilah dipergunakan untuk kesejahteraan dan persediaan untuk si miskin.[13] Dalam Baitul mal al-islam disimpan dana-dana Islam untuk orang-orang miskin dari zakat, kifarat, infak dan shadaqoh jariyah (wakaf)

Jadi dalam menghadapi ketidaktahanan pangan yang pernah dipraktekkan oleh para sahabat, ketidaktahanan pangan akibat bencana atau musibah, diberikan bantuan yang dikeluarkan baitul mal dari harta fai, shodaqoh yang dikeluarkan dari gudang penyimpanan makanan. Sementara ketidaktahanan pangan terus menerus akibat kemiskinan, ada mekanisme distribusi pendapatan Islam dalam menanggulangi kemiskinan dengan tujuan untuk memperkuat daya jangkau masyakat agar mampu melakukan penyesuaian diri terhadap kerentanan yang ada.


[1] Witoro (2003) “Menemukan kembali dan memperkuat sistem pangan lokal”  Lokakarya

forum pendamping petani Regio Gedepahala, Kamapung Pending Sukabumi 2-4 September 2003, h.3

[2] Handewi et.all (2005), Op.cit, h.75

[3] Dalam berbagai riwayat mayoritas dikatakan terjadinya krisis terjadi  pada tahun 18 H di daerah  Hijaz. Sebagaimana yang ditulis  Jaribah bin Ahmad al-Haritsi (2006), Op.Cit, h.354

[4] Jaribah bin Ahmad al-Haritsi (2006), Op.Cit, h. 375-378

[5] Al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Husein bin Ali (1994), As-Sunan Kubra,  tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha, j 6, Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.h.501-582. Lihat juga  Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar (tt), Al-Bidayah wa An-Nihayah, tahqiq Dr. Ahmad Abu  Mulhim, j 7, Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, h. 92

[6] Al-Baladziri (1987), Futuh Al-Buldan, tahqiq Abdullah Unais Ath-Thabba’ dan Umar Unais Ath-Thabba’, Beirut : Muassasah Al-Ma’arif. H.303-304

[7] bnu Sa’ad, Muhammad bin  Sa’d bin Mani’ (1995), Ath-thabaqat Al-Kubra, 3j, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha,  Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah,  h.241

[8] Witoro (2003), Op.cit, h.4

[9] Ibnu Sa’ad, Muhammad bin  Sa’d bin Mani’ (1995), op.cit. h.210

[10] Manan, M.A .(1986), Islamic economics: Theory and Practice,  Cambridge : The Islamic Academy, h.381

[11] Jaribah bin Ahmad al-Haritsi (2006), op.Cit, h.257

[12] Manan, Abdul (1986), op.cit. h.175

[13] Ibid

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s